Gue bingung gimana mau bikin disclaimer buat fic ini, berhubung forumnya punya Tsu, tapi settingnya punya Rowling; charnya punya saya, tapi visunya bukan punya saya…pokoknya intinya begitu, lah. Huhuhu. Diset beberapa bulan sebelum keberangkatan kapal ‘ ‘/

—Sweet—
An AniDurmstrang Sidefiction 

Sebagai sulung keluarga Nielsen, bahkan di usianya yang masih belia Lukas sudah diberi tahu soal bagaimana dia nantinya akan mengikuti pendidikan sihir di sebuah sekolah bernama Durmstrang. Bahkan jauh sebelumnya, dia telah melihat sendiri penggunaan sihir secara harian di sekitarnya. Mulai dari sekedar menyalakan api, penerangan, hingga untuk mengusir naga nyasar…ya, dia sudah melihat sendiri kehebatan sihir dan akan menertawakan nordik-nordik berkepala batu gunung yang isinya cuma lumut dan pecahan mata kapak itu. Tahulah, orang Skandinavia. Mereka cuma peduli benda yang bisa dipakai memecahkan kepala orang. Atau yang bisa dipakai mabuk. Atau dua-duanya.

Namun, bukannya dia sendiri juga sekian persen Skandinavia? Oh ya, sekian persen saja, dong. Begini-begini dia juga mendengarkan kalau kakeknya mengoceh soal silsilah keluarganya. Jadi tentu, dia sedikit-banyak cukup tahu soal asal-usul keluarganya. Rosenbauer, asal Jerman, pendahulu lulusan akademi sihir di daerah Jerman sana, yadayadayada~ Yaah, intinya, dia tahu banyak soal beberapa generasi atasnya. Setidak-tidaknya dia cukup mengerti kisah bagaimana keluarga Rosenbauer kemudian terpecah menjadi banyak keluarga di penjuru Skandinavia. Salah satunya, keluarganya sendiri, yang entah sejak generasi siapa memutuskan untuk mengambil marga Nielsen secara permanen.

Yang lainnya, salah satunya, Sorensen. Sama dengan keluarganya, mengambil marga permanen. Ah, dulu dia pernah kok, dibawa ayahnya ke sebuah acara kumpul keluarga. Keluarga yang menyenangkan, satu itu. Si bapak keren, si ibu baik. Anaknya juga…tidak buruk. Setidaknya, sifatnya bisa dibilang ramah.

Hanya, seriusan, ibu mana sih, yang menamai anak laki-lakinya Freesia?


Perjalanan selama beberapa lama menggunakan kereta itu tidak terlalu menyenangkan bagi Lukas. Oh, tidak, jelas tidak. Walaupun kereta itu terhitung bagus, namun tetap perjalanan mereka itu tak jauh beda dengan naik kapal di tengah badai. Goncangannya mana tahan. Seandainya ini bukan sebuah acara yang sebegitu pentingnya untuk ayahnya, Lukas sudah akan berontak, tahu; dia lebih suka keliling hutan (siapa tahu menemukan sesuatu yang bisa dijual menarik, kan lumayan. Daripada terkurung di dalam gerbong kereta yang sama sekali tidak ada nyaman-nyamannya.

Sayangnya, ayahnya itu benar-benar tipikal family guy, dan dia tidak akan melewatkan sebuah acara jumpa keluarga yang hanya bisa dilakukan sekian kali dalam setahun. Ha. Oke, mungkin memang ada baiknya Lukas mengenali anggota-anggota keluarga besarnya; tapi tetap saja….

….keretanya. Oh Odin, the train.

Untungnya, perjalanan tak menyenangkan itu segera selesai, dan kini dia menjejak stabil di atas tanah Norwegia. Ah, udaranya memang lebih dingin daripada Islandia. Sedikit lebih segar, pula. Ditariknya napas panjang-panjang, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

“Ah, Lukas, ingatlah satu hal,” diletakkannya kopernya di atas hamparan rumput, sembari menoleh ke ayahnya. “Jangan terlalu mengumbar soal sihir ke anak Nils…”

“Karena mereka masih ngotot merahasiakan soal sihir ke dia? Yea, oke. Anggap dia muggle biasa, kan?” Ayahnya membalas dengan sebuah anggukan. Kembali Lukas membawa kopernya. Tak jauh di depannya, sosok paman dan bibinya tampak mendekat, menyambut kerabat mereka dengan keramahan yang (mungkin, dalam pohon keluarga Rosenbauer,) hanya bisa ditemukan di keluarga mereka saja. Salam dan sapa bertukar di antara mereka, namun mata Lukas tak banyak berpindah dari sosok kecil yang lebih pendek sekian senti dari dirinya. Rambut merah, seperti bibi Selma. Mata hijau cerah, mirip paman Nils.

Menyadari tatapannya, bibi Selma menarik si rambut merah itu mendekat. “Ayo, Freis, kenalkan dirimu! Ah, maafkan anakku ini, dia memang sedikit pemalu…” Tawa kecil, sementara sepupunya yang memang tampak pemalu itu hanya melirik tanah sambil tersipu malu.

Demi Odin, imut banget.

Berdeham, Lukas mengulurkan satu tangan. “Lukas. Senang bertemu denganmu, sepupu.” Sesaat, sepupunya itu hanya menatap tangan Lukas, sebelum kemudian menyodorkan tangannya juga, bersalaman. “F-Freesia. Senang berkenalan, Lukas.”

“Freesia? Nama yang cantik. Cocok denganmu.”

“Um, terima ka—”

“Wajahmu manis sih.”

Jeda. Hanya ada senyum berbunga dari Lukas, tatapan aneh dari empat kerabatnya, dan tawa pelan dari orang lewat. Freesia menggaruk pipi. ”….um, itu pujian?” Pertanyaan sepupunya itu membuat Lukas menaikkan alis dengan heran. “Tentu saja itu pujian. Kukira semua perempuan suka dibilang manis?”

“Tapi…aku laki-laki.”

“…….”


Bahkan sampai sekarang, sekian tahun setelah pertemuan pertama yang mengena itu, Lukas masih meringis bila mengingatnya. Ah, ya. Setelah keheningan itu dia tertawa, lalu bertanya kalau-kalau itu bercanda. Ternyata tidak. Tak disangkanya dia bakal punya sepupu yang begitu. H-habis, mukanya benar manis, bukan salah dia kalau misalnya dia salah kira si Freesia cewek! A-apalagi namanya seperti itu! Maaf saja, Lukas tidak mau disalahkan gara-gara bocah muka ambigu begitu!

Yang jelas, setelah kejadian itu, Bibi Selma dan Paman Nils mengingatnya secara personal. Untungnya sih mereka tidak dendam gara-gara dia menyangka putra mereka itu perempuan. Tapi tetap saja, itu tak menghentikan mereka dari senyum-senyum sendiri ketika melihatnya!

Sudah sekian tahun berlalu sih, sejak mereka bertemu terakhir kali. Dan dalam hitungan beberapa bulan, Lukas akan ke Durmstrang. Hmmh, kira-kira dia akan bertemu lagi dengan sepupunya itu tidak, ya…? Jadi penasaran, sepupunya itu bagaimana kabarnya sekarang. Jangan-jangan tambah cantik. Atau setelah sekian tahun mereka tidak bertemu, mendadak dia jadi gar?

Atau jangan-jangan ternyata dia sebenarnya memang cewek?

Kalau iya, lucu banget.

Banget.