Headcanon. Salah kalian yang ngomongin soal Gellert sama Albus di plurk. Saya jadi tertarik, kan, dan akhirnya malah cari info sedikit-sedikit soal om Grindel orz

•••

⎡ For the Greater Good 
A Harry Potter headcanon fanfiction tl;dr summary

I shall present this love song, to the one person who once captivated me.
I shall present this love song, to the one person whose eyes never once saw beyond my wand.

•••

Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore berusia tak lebih dari 18 tahun ketika dia pertama kali bertemu dengan sosok itu. Sosok bersurai pirang yang kontras dengan merah auburn miliknya sendiri, dengan mata biru yang menyimpan seberkas obsesi yang misterius. Sosok yang lebih muda dua tahun darinya, namun memiliki suatu kebrilianan yang setara dengannya. Sosok yang menarik perhatiannya.

Albus Dumbledore. 18 tahun.

Godric’s Hollow menjadi titik temunya dengan Gellert Grindelwald.

•••

Mereka pertama bertemu satu sama lain di depan makam Ignatius Peverell, yang konon merupakan pemilik satu dari tiga Deadly Hallows.

Keduanya mengejar hal yang sama. Keduanya terobsesi pada hal yang sama. Keduanya mempunyai misi yang sama. Ketika itu, keduanya percaya, bahwa pertemuan mereka di Godric’s Hollow bukanlah suatu kebetulan. Mungkin itu nasib. Mungkin itu telah diramalkan. Mungkin itu restu dari almarhum Peverell bungsu. Apapun itu, keduanya percaya bahwa di tempat itu, di hari itu—

mereka telah diskenariokan untuk bertemu.

•••

Selama beberapa bulan, keduanya bertransformasi dari orang yang tak saling kenal menjadi sahabat baik sehidup semati. Kemana Gellert pergi, dia selalu membawa Albus, dan Albus selalu mengikuti Gellert. Tak jarang keduanya akan tenggelam dalam sebuah pembicaraan yang dalam, yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya. Gellert selalu akan mencurahkan kepada Albus, mimpinya untuk suatu hari nanti merealisasikan sebuah kehidupan di mana penyihir memegang kekuasaan. Tak ada lagi muggle-muggle yang tak berguna, yang tak bisa melakukan apa-apa, yang tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan mereka, para pelaku sihir.

Gellert akan membisikkan, pada Albus, bahwa di dunia idealnya, Ariana tak perlu bersembunyi. Ariana tak perlu lari. Ariana tak akan pernah mendapatkan musibah yang menimpanya ketika dia berusia enam tahun. Ariana akan mendapatkan apa yang seharusnya bisa didapatnya—sebuah kehidupan di mana dia, Ariana Dumbledore, adalah seorang penyihir yang membawa nama Dumbledore dengan bangga. Ariana—

—tidak akan menjadi beban bagi Albus.

Dan Albus akan bebas.

Albus, akan selalu menceritakan apa yang dimilikinya; apa yang pernah didengarnya tentang Deathly Hallows, obsesi mereka. Apa yang ditemukannya tentang artefak-artefak berharga itu, apa yang menjadi beban pikirannya hari itu, apa yang menjadi keinginannya saat itu, apa—

—yang menjadi mimpinya. Ideal pribadinya.

Albus akan menceritakan kepada Gellert, tentang sebuah dunia yang diimpikannya. Albus bukanlah persona yang brutal, yang akan menyelesaikan konflik dengan kekerasan dan perseteruan seperti Aberforth adiknya, namun Albus adalah pribadi yang ekstrim. Setiap visinya mungkin terlihat sepele, namun Gellert melihat dan mengerti, di balik tiap kesepelean yang ingin dilakukan Albus, terdapat sesuatu yang akan beresonansi. Yang akan menjadi besar.

Yang akan mengubah dunia yang mereka kenal.

Albus menginginkan kekuatan. Ia ingin menguasai dunia orang mati. Ia ingin mengubah dunia orang hidup. Albus ingin lepas dari beban yang telah mengikatnya dari apa yang seharusnya bisa didapatkannya. Ia ingin lepas dari Ariana. Ia ingin membangkitkan apa yang telah pergi karena Ariana.

Dan Gellert tahu persis itu, karena Albus menceritakan segalanya kepadanya, seperti dia menceritakan semuanya kepada Albus.

Dengan sedikit bisikan dari Gellert, Albus terjerumus. Mereka berkomplot. Mereka akan pergi dari rumah dan menghilang beberapa hari tanpa kabar, lalu kembali bermandikan tinta dan berbau seperti perkamen tua dengan berlembar-lembar ide-ide gila dan konsep-konsep yang tak masuk akal. Lalu mereka akan mencoba mempraktekkan ide-ide dan konsep-konsep mereka. Dan gagal. Atau berhasil.

Selama beberapa saat, demikianlah hubungan mereka, yang diikat dengan sebaris kata-kata.

For the Greater Good.

•••

Setidaknya, sampai Albus memutuskan bahwa Gellert lebih dari sekedar sahabat sehidup semati.

Seandainya Albus adalah Aberforth, mungkin dia akan mengkonfrontasi Gellert di tempat dan langsung berkata dengan bodohnya, ‘Dude, Gellert, I think I’ve just fallen in love with you. Let’s go to Spain and get married now.‘ Sayangnya, Albus bukanlah Aberforth, dan karena dia bukan Aberforth yang lebih memilih untuk berterus terang dan ditertawakan (atau dikubur hidup-hidup sekalian), maka dia memilih untuk bungkam.

Perasaannya kini menaruh perhatian khusus untuk setiap kata yang keluar dari mulut Gellert. Albus kini lebih dalam terseret ke dalam dunia pribadi milik Gellert. Ambisi dan kecerdasan keduanya kini terjalin lebih erat lagi, dan Albus mulai melupakan Ariana. Ariana yang malang, yang memikul luka batin yang dalam, tak pernah dan tak akan pernah bisa mengejar Albus. Sebelumnya, Albus akan menahan dirinya, dan dia akan memalingkan wajah dari ambisi demi menjaga peninggalan bernama Ariana dari ibunya.

Namun Gellert telah menggeser Ariana dari kehidupan Albus.

Ariana yang malang, tak bisa mengejar Albus yang telah berlari dengan kecepatan penuh untuk mengejar ambisinya dengan Gellert Grindelwald.

Pertanyaannya, kini, apakah Albus masih mengejar hal yang sama dengan yang dulu dikejarnya?

•••

Namun sepertinya, Gellert tak pernah melihat Albus Dumbledore.

Hubungan sehidup semati mereka retak dalam waktu satu jam, dan hancur dalam waktu satu minggu. Dimulai ketika Gellert memutuskan bahwa Albus benar-benar memiliki perasaan khusus kepadanya, lalu diikuti dengan tindakannya mencoba memanipulasi Albus dengan dasar perasaan itu. Apa yang telah Gellert lihat dalam Albus sejak pertama mereka bertemu adalah apa yang bisa dilakukan Albus, bukan Albus sendiri.

Maka Gellert tak memiliki perasaan apapun ketika dia bermain dengan perasaan Albus.

Dan Albus benci itu.

Tahun-tahunnya menjadi penjaga Ariana merupakan memento yang pahit baginya. Albus menganggap Ariana sebagai sebuah duri dalam kehidupannya yang sempurna. Tanpa adanya kewajiban baginya merawat Ariana, Albus yakin, dia bisa menjadi sempurna. Dan pribadi yang sempurna tak akan pernah menjadi boneka di tangan orang lain, bahkan dengan dasar perasaan sekalipun.

Dan itulah yang menjadi retak dalam gading yang mereka sebut persahabatan. Kehancuran gading itu bermula ketika Aberforth mendatangi Gellert. Bukan untuk menyampaikan proposal ‘pergi ke Spanyol untuk menikah’ dari Albus, melainkan untuk mengingatkan pada Albus bahwa rencana briliannya dengan Grindelwald tak akan bisa berjalan dengan adanya Ariana di tangan Albus.

Albus marah.

Namun Gellert murka.

Gellert mungkin tidak melihat Albus sebagai Albus, namun Gellert dapat melihat bahwa memiliki Albus sebagai partner dan komplotan akan menjadi unsur krusial dalam rencananya menguasai dunia. Dan ketika Albus telah dapat melepas Ariana, adik Albus yang bodoh itu harus datang dan mengingatkan Albus kembali. Hubungannya dengan Albus mungkin tidak dapat kembali sedekat apa yang pernah mereka miliki sebelumnya, namun Gellert tidak ingin kehilangan Albus, yang menjadi aset berharga bagi rencana besarnya.

Maka Gellert murka. Dan dia cukup murka untuk tidak segan-segan memberi Aberforth pelampiasan kemurkaannya. Cruciatus yang dilemparkannya mewakili amarahnya yang mendalam kepada individu yang mencoba untuk merusak rencananya itu.

But blood is always thicker than water

•••

“…kau melindunginya, Albus?”

Hujan deras turun seakan-akan membelah langit. Matahari bahkan belum tenggelam, namun lapisan awan gelap yang melingkupi horizon telah menyembunyikannya, menutupi cahaya yang seharusnya menerangi siang. Dan kala itu, tak ada satupun sosok terlihat berada di luar kediaman mereka di Godric’s Hollow.

Kecuali tiga sosok pemuda.

Dua Dumbledore.

Satu Grindelwald.

“Albus,” Suara Gellert meninggi. “Kau melindunginya?”

“Ini sudah kelewatan, Gellert.” Albus berdiri. “Menyerang keluargaku sendiri sama dengan menyerangku.” Gesturnya menyuruh Aberforth untuk mundur, walaupun dia sendiri kesulitan untuk berdiri setelah menerima cruciatus yang seharusnya diarahkan ke adiknya.

“Jadi, kau memilih dia? Kau akan membuang segala hal yang mungkin dapat kita raih bersama—dunia ideal yang kita impikan—demi seorang gadis gila yang dapat meledakkanmu setiap saat dan seorang pemuda bodoh yang memakan kotoran kambing? Dan kukira kau memendam perasaan cin—”

“Jaga mulutmu, Grindelwald!”

No more first name basis between us, no sir.

Seringai yang terbentuk di wajah Gellert ketika mendengar marganya terlontar dari mulut Albus bukanlah seringai yang biasa dibuatnya ketika mereka menemukan satu lagi petunjuk tentang Deathly Hallows. Tak ada lagi jejak Gellert Grindelwald yang merupakan sahabat Albus Dumbledore.

Bila tadinya dia murka, maka kini dia gila.

“AKU TERLALU BERHARAP KEPADAMU, ALBUS DUMBLEDORE! Kukira aku telah menemukan seseorang yang bisa menjadi rekanku untuk merevolusi dunia—namun sepertinya aku salah! Baik! KEMBALI, KAU, KEMBALI KE KELUARGA YANG KAU CINTAI ITU!”

“G—”

KEMBALI KAU, KE KELUARGA SAMPAHMU ITU!

“TARIK KATA-KATAMU SEKARANG JUGA, GELLERT GRINDELWALD!”

•••

For the Greater Good.

Untuk kebaikan yang lebih besar, katanya. Kini Albus mulai mempertanyakan empat kata yang menjadi motto mereka berdua itu.

Namun terlambat.

Dalam sekejap mata, ketika dirinya dan Gellert yang telah menarik tongkat berhadapan, Ariana berteriak. Aberforth yang baru saja mengeluarkan tongkat, tidak mempunyai cukup waktu untuk mencegah Ariana mendekati Albus dan Gellert. Mereka tak pernah tahu siapa yang menyebabkan kematian Ariana saat itu.

Albus kah, yang memantulkan kutukan Gellert dengan sebuah protego yang sempurna penempatannya?

Gellert kah, yang menembakkan kutukan demi kutukan seperti keledai liar?

Aberforth kah, yang melemparkan kutukan ke arah Gellert sebagai pengganti Albus yang tak cukup bodoh untuk melepaskan kutukan ke arah mantan sahabatnya sendiri?

Atau Ariana sendiri, yang tak bisa menguasai sihirnya dan bahkan bisa menyerang diri sendiri dengan sihirnya yang liar?

Hanya dalam sekejap mata, Ariana terbaring tak bernyawa di atas rerumputan kering yang basah karena hujan. Kedua kakaknya meneriakkan namanya, lalu berlari mendekatinya. Namun Ariana telah pergi. Ariana yang malang, yang sempat dilepaskan oleh Albus itu, telah pergi dan tidak akan pernah kembali.

Dan Gellert kabur.

Dia, Gellert Grindelwald, kabur begitu saja, tanpa ingin sedikitpun disangkutpautkan dengan kematian yang mungkin disebabkannya itu.

Dan saat itulah, gading yang sudah retak itu hancur menjadi serpihan.

•••

Dalam masa persahabatan yang sangat singkat itu, Albus sempat menyimpan suatu perasaan khusus kepada Gellert. Namun perasaan itu pun akhirnya menjadi satu lagi memento pahit baginya, yang akan dibawanya terus hingga mati.

Tinju Aberforth, yang mematahkan hidung Albus, seakan menjadi peringatan yang terlambat akan obsesinya yang menyimpang. Aberforth menyumpahi dirinya saat itu, menyalahkan kematian Ariana pada dirinya. Adiknya bahkan tidak menyebut nama Grindelwald sejak hari kematian Ariana—dia membebankan semuanya kepada kakaknya. Dia bahkan bersumpah tidak akan memaafkan Albus di depan makam Ariana.

Albus pun, dalam benaknya, mengucapkan sumpah yang sama.

And they never did.

They never forgave Albus Dumbledore for the tragic death of Ariana Dumbledore.

•••

Advertisement