Hidup itu investasi.
Dan hutangmu itu hutang mati.
+
Hellhounds
⎡ Jadi siapa yang setan di sini? ⎦
Ada sebuah pekerjaan yang sangat membosankan di akhirat.
Jauh lebih membosankan ketimbang pekerjaan si kakek-kakek mata satu yang kerjanya cuma coret-coret nama di atas sambil bilang masuk atau keluar itu. Jauh lebih membosankan ketimbang pekerjaan si penjaga gerbang surga yang tinggal berdiri sok keren sambil pamer kapak suci itu.
Intinya, sebuah pekerjaan paling membosankan sepanjang mas—ups, ini sudah melewati batasan masa, ya? Toh penduduk akhirat, kan, tidak ada yang mengenal jangkauan waktu yang disebut ‘masa’. Hem, begitulah. Ada satu pekerjaan yang sangat membosankan di akhirat, dengan gaji super kecil dan public image yang negatif di mata penghuni alam di atas tanah sana.
Penjaga pintu neraka.
Nama kerennya: Resepsionis Neraka.
“Meh. Berikutnya, maju sini.“
Secara formal, kami para penunggu gerbang neraka tidak memiliki nama spesifik. Toh, wajah kami semua sama; kerudung berwarna merah api yang merupakan sekilas gambaran pemandangan tingkat pertama neraka, dengan asap hitam menggumpal di bawah naungan bayangannya. Namun, menjadi co-worker selama puluhan abad (bahkan sekian puluh millennia, untuk beberapa senior kami dan—ehem, babu-nya Bos Luci di lantai paling bawah sana) membuat kami merasakan sedikit rindu pada masa-masa ketika kami bebas berkeliaran di atas bumi—
—jadilah muncul sebutan-sebutan klise macam Bob dan Harris di antara kami. Hai. You are now speaking with Martin.
…bercanda, Bos, jangan ngamuk dong.
Maksudnya, kami benar-benar bukanlah makhluk spesifik. Kami bahkan tidak mempunyai apa yang mungkin kalau untuk kalian para manusia-manusia bedebah di atas sana identik dengan nama spesies—kami hanya setan-setan penghuni neraka yang dipilih acak tiap arisan akbar di neraka lantai…lantai manapun lah, pokoknya yang isinya jahanam-jahanam matre tukang rampok nyawa itu. Yang jelas, siapapun yang kebetulan mendapat jatah sial lebih akan mendapat tanggung jawab menyambut penghuni baru di tangga ke neraka tingkat pertama…
…dan yang jatah sialnya benar-benar separah itu akan mendapat giliran bersama setan dari kelas sloth—mereka bisanya cuma makan gaji buta.
Nah, sekarang, hei, kalian makhluk-makhluk jahanam. Sekedar kuberitahu saja, kalian manusia sebenarnya lebih kejam daripada kami yang benar-benar setan. Kalian sebut sesama kalian manusia yang agak-agak kriminal itu setan? Fuck. Kalian yang merasa alim saja kadang lebih setan ketimbang kami. Dan sekedar informasi tambahan, Bos Luci sendiri yang bilang kalau kalian manusia kadang lebih setan daripada kami yang setan. Heh, buka mata, dong! Kalian sih enak saja—ada yang kalian benci? Boenoeh ajaa. Ada yang rese? Hajarr blehh. Ada yang bikin sebal? Bantaii~
MAMPUS AJA KALIAN. GA USAH KE NERAKA, TINGGAL SANA DI BUMI, JADI ARWAH GENTAYANGAN.
Kalian kira orang dosa, langsung terjun ke kolam neraka? Itu mah adanya di tempat kalian saja! Yang namanya roh baru, kalau sudah sampai di pintu neraka, harus disortir dulu dengan sekian banyak roh lainnya di ruang tunggu neraka, tahu! Dan kalian kira yang kerja sortirnya siapa? Bos Luci? Bos kerjanya cuma minum bir darah sambil nonton sinetron di lantai paling bawah—yang kerja rodi untuk penyortiran roh baru itu KAMI, resepsionis-resepsionis tersiksa ini! Makanya aku bilang, kalian manusia sebenarnya lebih setan daripada kami yang setan; Pekerjaan membuat kalian merasa didera itu seharusnya pekerjaan kami, tahu, bukannya dibalik!
“Kau, rebutan tempat di lantai lima sana. Ikut dengan si baju merah yang bawa tombak di sana itu. Dan kalian yang di sana, berhenti curhat-curhatan; berisik! Kau juga, vulgar! Tidak ada yang mau tahu detail caramu memperkosa si bocah, jadi diam!”
Beginilah, kondisi setiap hari. Kalau tidak ada si roh gue-gak-bersalah-balikin-gue-ke-pintu-sorga, ya yang ada eh-gue-pedofil-habis-ngehamilin-bocah-umur-X, atau tipe-tipe eh-gue-masuk-neraka-gara-gara-X-and-damn-proud-of-it. Yah, kadang ada sih, tipe-tipe lain, tapi akhir-akhir ini yang banyak yah jenis-jenis itu…pendosa inosen yang cuma menambah daftar populasi purgatori, atau yang isinya cuma seks, seks, seks—bicara soal tipe nafsuan itu, pernah dulu ada satu roh ini yang malah mengajakku melakukan—
—oke, lupakan. Nyaris curcol, bisa musnah ini sisa nyawa kalau sampai ketahuan Bos Luci.
…Dan bicara soal curcol, mungkin sebaiknya flash interview ini dilanjutkan kapan-kapan…rasanya akhir-akhir ini ruang tunggu neraka jadi makin penuh saja. Cih. Sedangkan si tua jenggotan yang kerjanya coret-coret nama di buku kehidupan surgawi sana malah banyak tidur. Iya, gue sirik. Gue emang dari neraka yang itu, kenapa lo?
:|
[end, for now.]
Anjir, keren.
Deskripnya berasa bener-bener menyaksikan langsung kerjanya si setan =’))